Home Berita KHUTBAH JUMAT: Bagaimana menyikapi musibah dan kesulitan hidup dampak pandemi Covid-19

KHUTBAH JUMAT: Bagaimana menyikapi musibah dan kesulitan hidup dampak pandemi Covid-19

0
KHUTBAH JUMAT: Bagaimana menyikapi musibah dan kesulitan hidup dampak pandemi Covid-19

Wahai orang-orang yang beriman. Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan sholat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar (QS. al-Baqarah ayat 153).

KADINBANDUNG.COM, KOTA BANDUNG – Khutbah Jumat kali ini akan membahas mengenai bagaimana menyikapi musibah dan kesulitan hidup dampak pandemi Covid-19 yang masih berkepanjangan.

Tentu saja ketika pandemi Covid-19 melanda Indonesia banyak sektor hidup yang terganggu salah satunya adalah kesehatan, pendidikan, sosial dan ekonomi.

Banyak orang dan umat muslim yang merasa lelah, mungkin juga putus asa, frustasi dan sedih dengan adanya pandemi Covid-19 yang masih berkepanjangan.

Dalam kesempatan kali ini, kami sampaikan naskah Khutbah Jum’at bertema: Bagaimana menyikapi musibah dan kesulitan hidup dampak pandemi Covid-19”  oleh H. Asep Ruslan MS, S.Hut atau Kang Asep, Pembina Pesantren Rahmat Lil Alamin (PARLA) yang disampaikan pada  khutbah Jumat di Masjid Al Madinah Perumahan Madani Regency Jl. Cijambe No.1a, Pasir Endah, Ujung Berung, Kota Bandung, Jumat (13/8/2021).

URAIAN KHUTBAH JUMAT

Pandemi Covid-19 yang masih berkepanjangan semakin berdampak kepada sendi-sendi kehidupan manusia, tidak hanya pada masalah kesehatan, juga berdampak pada masalah sosial dan ekonomi. Di Indonesia ada sekitar 2,8 juta pekerja yang terkena PHK, para pedagang harian, para pelaku UMKM, Koperasi, bisnis dan hampir semua usaha terdampak oleh pandemi Covid-19.

Banyak yang panik hingga stress, banyak yang kaget kemapanan hidupnya terganggu, banyak yang terpaksa melakukan tindakan kriminal dan lain sebagainya.

Dengan diterapkannya Perpanjangan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level 4, yaitu upaya pemerintah untuk meminimalisasi mobilitas dan kegiatan sosial atau ekonomi yang tidak esensial demi mengoptimalisasi penekanan kasus Covid-19 tanpa mematikan sektor penghidupan di masyarakat.  

Dampaknya bagi para pelaku usaha, menjadi ancaman serius. Semakin lama PPKM level 4 dikhawatirkan makin banyak pelaku usaha yang tumbang. Mereka hanya berharap Pemerintah dapat mengambil kebijakan yang tepat untuk kepastian kelangsungan usaha mereka.

Bagi masyarakat luas dampak pandemi Covid-19 yang masih berkepanjangan, banyak masalah multi dimensional yang dihadapi. Diantaranya masalah psikologis, seperti rasa takut, sedih, frustasi, keluh kesah, panik, tidak sabar dan rasa khawatir berlebihan yang bisa menyebabkan orang putus asa. Putus asa merupakan sikap tercela, yang melemahkan semangat dan akal pikiran, menumbuhkan sikap pesimis, serta menghilangkan rasa percaya diri. Putus asa adalah perbuatan terlarang di dalam Islam. Hadapi setiap keadaan dengan optimalkan ikhtiar, doa dan tawakal kepada Allah Swt.

Untuk itu dalam setiap beraktifitas untuk mencegah tertular Covid-19, selalu terapkan 6M+1B: Memakai masker dengan benar, Mencuci tangan pakai sabun di air mengalir atau pakai hand sanitizer, Menghindari kerumunan, Menjaga jarak, Mengurangi mobilitas diluar, Melakukan vaksinasi Covid-19 dan Berdoa agar Covid-19 segera dicabut oleh Allah SWT.

Allah SWT adalah pencipta dan pemilik segala sesuatu. Allah berbuat apa pun dalam kekuasaan-Nya sesuai dengan apa yang Dia kehendaki. Marilah kita bersabar sebagaimana diperintahkan oleh Allah SWT dalam al Quran.

Artinya: “Dan Kami pasti akan menguji kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un” (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali untuk dihisab).” (QS. al Baqarah: 155-156).

Jika kita terkena musibah, hendaklah kita meneladani Rasulullah SAW dalam kesabarannya. Al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya dari sahabat Anas bin Malik RA, bahwa ia masuk bersama Rasulullah SAW untuk melihat putranya Ibrahim saat sakaratul maut. Rasulullah SAW kemudian mengambilnya dan menciumnya.

Kemudian setelah itu kami menengoknya lagi dan saat itu Ibrahim telah terenggut nyawanya. Kedua mata Nabi pun mengalirkan air mata. Abdurrahman bin ‘Auf RA berkata kepadanya, “Anda pun menangis, wahai Rasulullah?” Rasulullah SAW menjawab, “Wahai Ibnu ‘Auf, sungguh inilah rasa kasih sayang.

Nabi kembali meneteskan air mata dan bersabda: Sungguh mata ini meneteskan air mata, hati pun bersedih, tetapi kami tidak mengatakan kecuali apa yang Allah ridhai, dan sungguh kami bersedih karena berpisah denganmu, wahai Ibrahim.

Firman Allah SWT dalam al Quran telah bersumpah, bahwa manusia diciptakan dengan berbagai kesulitan hidup, susah payah dan keletihan.

Artinya: “Sungguh, Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah.” (QS. al Balad ayat 4).  

Kesulitan yang pertama kali dialami seorang manusia adalah ketika tali pusarnya dipotong, kemudian ketika diikatkan bedung ke badannya sehingga ia merasakan ketidaknyamanan dan susah bergerak. Lalu ia merasakan kesulitan ketika menyusu kepada ibunya. Seandainya ia tidak menyusu, maka ia akan terlantar dan kelaparan. Lalu ia merasakan sakit saat tumbuh giginya. Setelah itu ia akan mengalami kesulitan saat disapih. Kemudian ia merasakan rasa sakit saat dikhitan. Setelah melewati itu semua, ia akan menghadapi guru yang mendidiknya, menggemblengnya dan terkadang memberikan hukuman kepadanya.  

Setelah itu, manusia akan disibukkan dengan persiapan nikah dan disibukkan dengan pekerjaan setiap hari untuk dapat menafkahi keluarganya. Lalu ia akan disibukkan dengan urusan anak dan istri. Kemudian disibukkan dengan membangun rumah dan melengkapinya dengan berbagai perabot rumah tangga. Setelah itu, manusia akan memasuki usia tua, badan lemah dan beberapa anggota badan tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Belum lagi berbagai penyakit yang sewaktu-waktu bisa saja menyerangnya. Ditambah lagi dengan beban hidup seperti hutang, mengangsur cicilan, dicaci orang, dibicarakan kejelekannya dan lain sebagainya. Hingga tibalah saatnya sakaratul maut yang luar biasa sakitnya. Setelah hembusan nafas yang terakhir, apakah berakhir semua kesulitannya? Belum, hadirin sekalian.

Setelah itu, manusia akan memasuki alam barzakh dan alam akhirat. Ada pertanyaan malaikat Munkar dan Nakir. Ada hisab. Ada perjalanan melewati shirath. Hingga pada akhirnya masa penentuan itu tiba, apakah ia akan merasakan berbagai kenikmatan surga ataukah ia akan sengsara di neraka.  

Karena itu marilah kita laksanakan semua perintah Allah. Marilah kita saling berpesan serta berwasiat untuk berpegang teguh dengan kebenaran dan kesabaran. Marilah kita bersabar atas musibah dan bala` yang menimpa kita.

Jangan sampai kita bermaksiat kepada Allah disebabkan musibah yang menimpa kita. Jangan sampai musibah dan berbagai kesulitan hidup menyebabkan kita melanggar aturan-aturan Allah. Janganlah kita memprotes Allah ketika terkena bala’ dan musibah. Hendaklah kita bersabar dan terus menerus menjalankan kewajiban dan menjauhi perkara yang diharamkan dalam keadaan apa pun, seberat apa pun masalah yang kita hadapi.

Jika hati kita sedih karena ditimpa musibah, jika dada kita sesak dengan berbagai kesulitan hidup, salah satu obat yang akan menenangkan hati dan pikiran kita adalah pergi ke makam. Kita berziarah ke makam orang tua, keluarga dan kawan-kawan kita. Kita renungkan di sana, di manakah rumah terakhir kita. Kemanakah kita akan pergi meninggalkan dunia ini.

Hendaklah diketahui bahwa seandainya nilai dunia ini sebanding dengan satu sayap seekor nyamuk saja, niscaya Allah tidak akan memberikan kepada orang kafir apa pun meskipun hanya seteguk air di dunia ini. Artinya, dunia ini tidak ada nilainya sama sekali menurut Allah. Dunia ini tidak ada nilainya sama sekali dibandingkan dengan kehidupan akhirat. Dunia adalah penjara bagi orang yang sempurna imannya dan ibarat surga bagi orang kafir.   Hal yang paling bernilai dan paling penting bagi kita melebihi apa pun di dunia ini adalah meninggal dengan membawa islam dan iman yang sempurna.  

Selezat apa pun makanan yang kita makan, pasti akan menjadi kotoran. Semahal apa pun pakaian yang kita kenakan, pada akhrnya pasti akan dibuang ke tempat sampah. Sebesar dan semewah apa pun rumah yang kita bangun, pasti tidak akan kita bawa mati. Rumah terakhir kita semuanya berukuran sama, tidak lebih dari 1 x 2 meter.

Oleh karena itu apa yang kita perbuat di dunia ini, maka kita akan mendapatkan balasannya. Kematian adalah kepastian yang telah ditetapkan oleh Allah. Perpisahan dengan orang-orang yang kita cintai di dunia ini adalah janji Allah yang pasti terpenuhi. Kehidupan di dunia ini permulaannya adalah kedla’ifan dan kelemahan dan berakhir dengan kematian dan kuburan.

Marilah kita bersabar atas bala yang Allah ujikan kepada kita. Jangan sampai kita memprotes dan menyalah-nyalahkan Allah. Kita yakin bahwa pada setiap kejadian pasti ada hikmahnya.

H. Asep Ruslan bersama santri dan para Ustadz di Pesantren Rahmat Lil Alamin (Foto: YARLA)

KESIMPULAN

Tanamkan keyakinan dalam hati, bahwa seandainya seluruh manusia dan jin bersatu untuk membuat kita celaka, maka mereka tidak akan mampu mencelakai kita kecuali jika Allah menghendaki hal itu. Demikian pula seandainya seluruh manusia dan jin bersatu untuk memberikan manfaat kepada kita, maka mereka tidak akan memberikan manfaat kepada kita kecuali apabila Allah menetapkan hal itu.

Firman Allah SWT dalam al-Quran: Fazkuruuniii azkurkum wasykuruu lii wa laa takfuruun, Artinya: “Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku.” (QS. al-Baqarah ayat 152).

Oleh karenanya dalam situasi apapun kita harus bertawakal, yakin dan percaya hanya Allah SWT pelindung kita. Apa pun yang Allah kehendaki terjadi, pasti akan terjadi, dan apa pun yang tidak Allah kehendaki, pasti tidak akan pernah terjadi.

Dalam suasana tahun baru Islam 1 Muharram 1443 Hijriah yang sudah kita peringati pada Selasa 10 Agustus 2021. Bulan Muharram adalan salah satu diantara 4 bulan istimewa yang memiliki banyak keutamaan dan kemuliaan selain Zulkaidah, Zulhijah dan Rajab yang telah di jelasakan di Al-Qur’an.

Saya ingin mengucapkan: Selamat Tahun Baru Islam 1443 Hijriyah. Semoga kita dapat meningkatkan keimanan dan ketakwaan di tahun ini. Semoga Allah SWT jadikan kita dan keluarga pribadi yang lebih baik lagi di tahun ini. Tahun Baru Hijriyah menjadi spirit baru untuk menguatkan persaudaraan dan kepedulian pada sesama di tengah pandemi Covid-19.

Juga menjelang peringatan Dirgahayu 76 tahun Republik Indonesia pada Selasa 17 Agustus 2021 nanti. Khotib berharap, semoga peringatan ini jadi momentum kebangkitan kita semua, jayalah negeriku, sejahtera bangsaku. Mari terus bersatu menghadapi kondisi sulit, semoga Indonesia lekas terbebas dari pandemi Covid-19, Indonesia makin maju, makin kuat dan makin sejahtera rakyatnya. Indonesia Tangguh, Indonesia Tumbuh.

Ya Allah… tetapkanlah kami menjadi orang yang istiqomah menjalankan ibadah kepada-Mu, berikan kami kesehatan, kemudahan rezeki dan ampunan-Mu. Akhirkan hidup kami dalam Husnul Khotimah, Aamiin. 

H. Asep Ruslan MS, S.Hut *)

  1. Ketua Yayasan Rahmat Lil Alamin (YARLA)
  2. Ketua UPZ Kadin Bandung Bermanfaat
  3. Presiden Paguyuban Asep Dunia (PAD)
  4. Pengurus Pusat MIO Indonesia (Perkumpulan pemilik media online di Indonesia)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here